by

ISC, Eksistensi dan Kiprah Merawat Kesejarahan

bolmut.perdananews.com|ISC atau akronim dari Inomasa Studi Club, keberadaannya sebagai sebuah organisasi tidak hanya menjalankan program kegiatan momentum seremonial. Tidak juga cukup berhenti pada wilayah gagasan dan ide belaka.

Tercatat, begitu banyak eksistensi yang telah dilakukan ISC, seiring dengan telah beberapa kali berganti kepengurusan. Mereka (ISC) tetap konsisten pada cita-cita organisasi “kaderisasi, penggalian sejarah dan pelestarian budaya”.

Proses kaderisasi berjalan pada wilayah mahasiswa dan pelajar, sementara untuk culture knowledge, ISC membentuk sebuah lembaga khusus.

Pusat Studi Sejarah, Adat dan Kebudayaan Bintauna (PUSSAKABin) nama lembaganya.
Ya, pada lembaga inilah output dari proses kaderisasi ISC berkiprah dimasyarakat.

Sejumlah terobosan yang telah berhasil dilakukan diantaranya, seminar bahasa Vintauna. Hal ini sebagai upaya penggalian dan pelestarian budaya tutur bahasa asli daerah Bintauna dengan projek finalnya kamus bahasa Vintauna.

Baca juga: Balai Arkeologi Sulut Kunjungi Jere Raja Bintauna

Selain itu, dalam melakukan kegiatannya, ISC melalui PUSSAKABin terus melakukan inovasi dan menggandeng berbagai pihak berkompeten. Tepatnya tanggal 13/12 PUSSAKABin ISC menjadi guide dan narasumber (mitra/red) dalam penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Sulawesi Utara.

Penelitian itu sendiri dilakukan di kompleks pekuburan Jere Raja Bintauna. Dari hasil penelitian tersebut, diharapkan nantinya memberikan angin segar bagi upaya pelestarian warisan kebudayaan Bintauna.

Menurut Irna Saptaningrum, M. Hum, salah satu peneliti Balai Arkeologi, kepada media ini (13/12). Data-data yang diperoleh pada kunjungan tersebut masih akan didalami terkait berbagai macam potensi yang ada.

“Yang pastinya ini penjajakan, dalam artian bahwa kita mau melihat potensi dari peninggalan arkeologis yang ada di Bolmut” ujar Saptaningrum.

Ersad Mamonto, anggota PUSSAKABin ISC, saat mengungkapkan kepada media ini, berharap adanya perhatian pemerintah untuk mendukung serta menunjang upaya yang dilakukan oleh Dia dan lembaganya.

“Kami berharap adanya perhatian pemerintah. Mau tidak mau, ini harus dilakukan. Sebab pelestarian budaya (situs) dan penggalian sejarah saat ini merupakan bagian dari upaya melacak jati diri kita dimasa lalu. Kalau dibiarkan, akan terputus antara sejarah Bintauna dengan generasi Bintauna dimasa mendatang. Jika ini terjadi, generasi Bintauna akan kehilangan jati dirinya” ujar pemuda yang akrab disapa Ecad ini.

“Sejatinya, keberagaman kebudayaan daerah baik bahasa, adat, dan sejarah sebuah daerah merupakan kekayaan dan identitas bangsa. Untuk itulah pelestariannya sangat penting. Hal ini demi memajukan kebudayaan nasional Indonesia ditengah dinamika perkembangan global. Mencintai budaya sendiri tanpa merendahkan dan melecehkan budaya orang lain” kata Ersad mengakhiri.

(Asriadi/bolmut.perdananews.com/perdananews.com)

Comment

PERDANANEWS