by

75 Tahun Indonesia, Jangan Ada Yang Baperan

bolmut.perdananews.com|75 Tahun Usia Indonesia, Jangan Ada Yang Baperan. 75 Tahun bukan usia yang tergolong muda lagi, melainkan usia yang sudah matang dan sudah banyak makan asam garam kehidupan.

Tentu banyak pengalaman yang dialaminya serta banyak cerita-cerita suka maupun duka, yang tergoreskan didalam lembaran sejarah perjalanan Indonesia.

Sejak pada 17 Agustus 1945 kemerdekaan diumumkan terlepas dari para penjajah tetapi banjir cerita selalu datang berganti-ganti bagaikan gelombang pasang yang naik kedaratan, sehingga meninggalkan jejak bekas hitam, tentunya bisa dijadikan pelajaran untuk kedepannya.

Baca juga: Saat UAE Membuka Hubungan Resmi Dengan Israel

Agar tidak terulang kembali dan bisa diambil buah ceritanya yang manis-manis, kalau ada yang pahit harus kita tinggalkan.

Menatap kedepan jangan menoleh kebelakang, yakin dan percaya diri harus ditanamkan, bergandengan tangan serta kerukunan tetap selalu dipupuk agar subur disana-sini.

Perbedaan memang harus terjadi supaya mendapatkan yang terbaik, karena adanya perbedaan akan muncul buah pemikiran yang manis-manis, seperti di Bumi Pertiwi Indonesia yang tumbuh bermacam-macam jenis buah dan berbagai rasa.

Semuanya ada tinggal memilih sesuai dengan selera dan bisa tumbuh bebas tanpa ada yang membayangi, sehingga bisa tumbuh baik sesuai alam yang ada disekitarnya sebagaimana mestinya jadi tidak ada istilah buah kuntet atau tumbuh tidak maksimal.

Perbedaan pandangan bukan berarti harus bermusuhan atau berjauh-jauhan yang akhirnya ada jurang pemisah disana dan disini. Soalnya setiap buah pemikiran yang dilahirkan oleh seseorang, mempunyai cara pandang sendiri-sendiri dari posisi mana ia memandang, disitu akan menentukan pandangannya diarahkan kemana.

Karena setiap orang mempunyai hak untuk mengeluarkan buah pemikirannya menuturkan apa yang sedang dirasakannya, melalui simpul-simpul sarafnya.

Apalagi setiap orang akan tidak sama antara orang satu dan satunya. Apa yang dirasakan, sudah barang tentu akan menceritakan sesuai dengan gayanya masing-masing secara lembut ataupun lantang.

Tetapi makna tujuannya pun sama untuk memberi tahu kepada khalayak publik, bahwa ada aroma jeruk, pisang atau aroma buah yang lain.

Jadi apabila ada suara sumbang ataupun ada tindakan untuk melahirkan gagasan, bukan berarti tidak suka, melainkan agar segera diadakan evaluasi dan melakukan perbaikan.

Dikarenakan sebagai wujud kecintaan pada negeri Indonesia yang kita cintai bersama. Seperti halnya kita memiliki suatu barang, kalau bukan kita sendiri lalu siapa yang akan merawatnya.

Comment

PERDANANEWS